Sortiran TBS PKS PT BSM Singkut Sangat Panas & Rugikan Petani, Sopir: Paling Sedikit 500 Kg Dibawa Pulang, Pernah 6 Ton Hanya Bongkar Belakang



Sarolangun - Muratara, BS.id - Selain kasus pengeroyokan sadis terhadap Yogi warga Sungai Kunyit, kini terbongkar borok lain dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Berkat Sawit Mandiri (BSM) Singkut, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Sortiran Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di pabrik tersebut diduga sangat panas, tidak masuk akal, dan sangat merugikan petani, khususnya petani asal Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Fakta miris ini terungkap saat ratusan warga Muratara menggelar aksi penyetopan total aktivitas PKS PT BSM Singkut pada Jumat (23/10/2026) hari ini, sebagai bentuk protes dan tuntutan agar pihak perusahaan segera menuntaskan persoalan dugaan pengeroyokan terhadap Yogi, pemuda asal Sungai Kunyit, Kecamatan Rawas Ulu, Muratara, yang diduga dikeroyok 5 karyawan bagian sortir PT BSM.

Di tengah aksi penyetopan pabrik tersebut, beberapa sopir truk pengangkut sawit yang menjadi korban keganasan sortiran PT BSM Singkut buka suara kepada awak media buana.id dan membenarkan bahwa sortiran di pabrik BSM sangat ketat, panas, dan terkesan mengada-ada.

"Benar sekali bos, sortirannya sangat panas di PT BSM ini. Paling sedikit 500 Kg kami bawa pulang lagi, pernah 6 ton kami bawa pulang lagi, hanya bongkar bagian belakangnya saja," ujar salah satu sopir truk pengangkut sawit asal Muratara dengan nada kesal saat diwawancarai di lokasi aksi.

Sopir tersebut menjelaskan modus sortiran panas yang dilakukan oknum PKS PT BSM Singkut. Pihak pabrik beralasan meminta buah yang baru dipanen dan fresh, sementara realita di lapangan, antrian bongkar di pabrik tersebut bisa menginap satu malam.

"Alasannya mau tandan buah segar yang baru dipanen, sedangkan kami bongkar itu paling cepat satu malam, menginap di pabrik ini, mana bisa buahnya seperti baru dipanen bos. Logikanya di mana? Kami antre dari pagi sampai malam, menginap di pabrik, besok baru bongkar, eh dibilang buahnya tidak segar, busuk, mentah, disuruh bawa pulang lagi 500 Kg sampai 6 ton. Rugi besar kami bos," tuturnya.

Keluhan sopir tersebut diamini oleh sopir-sopir lainnya. Mereka mengaku sudah sangat resah dengan sistem sortiran di PT BSM Singkut yang dinilai tidak transparan, tidak ada standar jelas, dan seenaknya memotong TBS petani.

Akibat sortiran panas tersebut, petani asal Muratara mengalami kerugian yang tidak sedikit. TBS yang sudah dipanen dengan susah payah, dibawa dengan biaya transportasi tinggi dari Rawas Ulu ke Singkut Sarolangun yang lintas provinsi, malah disuruh bawa pulang lagi berton-ton.

"Kami dari Sungai Kunyit, Rawas Ulu, Muratara bos, bawa sawit ke Singkut ini jauh, lintas provinsi, biaya minyak besar, sopir menginap, makan. Eh sampai pabrik malah disuruh bawa pulang lagi 500 Kg sampai 6 ton. Ini mencekik petani namanya. Kalau memang tidak mau terima sawit Muratara, bilang saja terus terang, jangan dipermainkan seperti ini," keluh sopir lain.

Ironisnya, saat dikonfirmasi awak media buana.id terkait sortiran yang ketat dan panas tersebut, Kiki selaku manajemen perusahaan mengaku tidak tahu apakah itu perintah dari manajemen.

"Saya tidak tahu apakah itu perintah dari manajemen," ujar Kiki singkat saat ditanya soal sortiran panas 500 Kg hingga 6 ton yang dikeluhkan sopir.

Jawaban Kiki tersebut justru memicu kemarahan warga. Warga menilai manajemen PT BSM Singkut diduga cuci tangan dan tidak bertanggung jawab.

Aksi Ratusan Warga Lumpuhkan Pabrik, Tuntut Keadilan Untuk Yogi

Sebelumnya, ratusan warga Muratara menggelar aksi penyetopan total semua aktivitas Pabrik Sawit PT BSM Singkut. Aksi tersebut dipimpin langsung oleh Adit, kakak kandung Yogi korban pengeroyokan.

"Hari ini kami melakukan penyetopan semua aktivitas pabrik sawit BSM, meminta agar pihak perusahaan bertanggung jawab atas pengeroyokan adik saya Yogi," papar Adit, Kakak Kandung Yogi, kepada awak media.

Menurut Adit, pihak perusahaan tidak bisa cuci tangan karena pelaku merupakan karyawan BSM dan kejadian terjadi pada jam kerja di area loading bay pabrik. Dugaan pengeroyokan bermula saat perusahaan melakukan penyisiran terhadap TBS.

"Perusahaan tidak bisa cuci tangan bos, pelaku itu karyawan BSM, kejadian jam kerja di dalam pabrik. Adik saya Yogi dikeroyok 5 orang karyawan sortir gara-gara protes sortiran TBS. Kami minta keadilan," tegas Adit.

Adit mengatakan, sebelumnya sudah dilakukan musyawarah antara perwakilan keluarga korban dengan pihak perusahaan, namun belum menemukan kesepakatan.

"Tadi sudah musyawarah antara perwakilan kami dengan pihak perusahaan tetapi belum ada kesepakatan. Jika tidak ada kejelasan, kami akan melakukan aksi yang lebih besar lagi, kami akan bawa massa lebih banyak lagi untuk tutup total PT BSM," ancam Adit.

Sementara itu, manajemen perusahaan yang diwakili Kiki mengatakan, aksi warga tersebut bukan demo, melainkan tuntutan untuk menyelesaikan kasus pengeroyokan Yogi.

"Masalah ini bukan demo, mereka menuntut untuk diselesaikan masalah pengeroyokan itu. Sekarang pihak kami bersama kepolisian masih melakukan musyawarah untuk mencari solusi. Sekarang saya belum bisa banyak komentar karena musyawarahnya belum selesai, nanti kita lanjut lagi," ujar Kiki.

Warga Desak Disbun & Bupati Sarolangun Audit PT BSM

Atas terbongkarnya fakta sortiran panas yang merugikan petani Muratara hingga 6 ton tersebut, warga mendesak Dinas Perkebunan Kabupaten Sarolangun dan Bupati Sarolangun untuk segera turun dan audit sistem sortiran TBS di PKS PT BSM Singkut.

Warga juga mendesak agar PKS PT BSM Singkut lebih transparan dan membuat standar sortiran yang jelas dan adil bagi petani, bukan seenaknya memotong TBS petani.

Hingga berita ini diterbitkan, aksi penyetopan pabrik masih berlangsung di area Pabrik BSM Singkut. Aparat kepolisian dari Polres Sarolangun sudah berada di lokasi untuk mengamankan jalannya aksi.

buana.id tetap membuka ruang Hak Jawab dan Hak Koreksi seluas-luasnya.(Rilis cakrabuana)

Tags :
Komentar

BERITA TERKINI

close
Banner iklan disini